YOGYAKARTA – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mendorong masyarakat untuk mulai beralih menggunakan layanan air perpipaan guna mendapatkan akses air minum yang lebih aman dan berkualitas. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Yogyakarta memperluas cakupan layanan air bersih yang saat ini masih berada di kisaran 30 persen.

Hasto menargetkan cakupan layanan air perpipaan di Kota Yogyakarta dapat terus meningkat hingga mendekati 80 persen pada 2030. Target tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menempatkan akses air bersih dan sanitasi layak sebagai bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan.

“Kalau kita ingin membangun sumber daya manusia yang unggul, maka akses air bersih dan sanitasi tidak boleh diabaikan. Saat ini cakupan air perpipaan di Kota Yogyakarta sekitar 30 persen. Terus kita dorong mendekati 80 persen sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030,” ujar Hasto.

Hal itu disampaikan Hasto saat menjadi keynote speaker Workshop Dewan Pengawas BUMD Air Minum Se-Indonesia yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Tirta Dharma Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) di Malioboro Hotel & Conference Center, Rabu (22/7/2026).

Menurut Hasto, penggunaan air perpipaan lebih mampu menjamin kualitas air minum dibandingkan sumber air dari sumur maupun air tanah yang berisiko tercemar lingkungan sekitar. Persoalan kualitas air dan sanitasi juga memiliki kaitan erat dengan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Buruknya kualitas air, lanjut Hasto, dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air, salah satunya diare. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak sekaligus menjadi salah satu faktor risiko stunting.

“Sebagus apa pun asupan gizi yang diberikan, kalau anak terus mengalami diare akibat air dan sanitasi yang tidak sehat, pertumbuhannya akan terganggu. Karena itu air bersih menjadi bagian penting dalam membangun kualitas generasi mendatang,” katanya.

Hasto juga menekankan pentingnya kualitas air sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurutnya, air yang dikonsumsi ibu hamil, bayi, hingga balita turut menentukan kesehatan dan perkembangan anak di masa depan.

Untuk mempercepat perluasan layanan, Hasto menilai dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, BUMD Air Minum, dan berbagai pemangku kepentingan. Kapasitas serta cakupan layanan BUMD Air Minum perlu diperkuat bersamaan dengan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya air minum yang aman.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Tirta Dharma PERPAMSI, Muslih, mengatakan workshop tersebut diikuti sekitar 74 peserta dari 34 BUMD Air Minum di berbagai daerah. Forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fungsi pengawasan dan tata kelola BUMD Air Minum dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *