SURAKARTA – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto meminta pemerintah daerah menghadirkan kegiatan yang kreatif, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata kepada masyarakat. Penyelenggaraan event pemerintah tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial atau sarana menggugurkan kewajiban administratif.
Hal tersebut disampaikan Bima dalam lokakarya keprotokolan APEKSI di Hotel Swiss-Belinn Surakarta, Kamis (3/9/2026). Kegiatan itu dihadiri Wali Kota Surakarta Respati Ardianto, pengurus APEKSI, narasumber, serta peserta dari berbagai pemerintah daerah.
Menurut Bima, setiap kegiatan yang dibiayai menggunakan anggaran publik harus memiliki tujuan jelas dan hasil yang dapat diukur. Seluruh unsur acara, mulai dari konsep, target peserta, waktu pelaksanaan, tata ruang hingga strategi publikasi, perlu dirancang secara matang.
Ia juga mendorong pemerintah daerah menerapkan prinsip “low budget, high impact”. Keterbatasan anggaran dinilai tidak seharusnya menghambat lahirnya kegiatan yang menarik dan berkualitas.
“Budget itu relatif, tetapi acara berkualitas itu absolut,” ujar Bima.
Bima mencontohkan pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan dengan format town hall meeting saat dirinya memimpin Kota Bogor. Melalui konsep tersebut, masyarakat memperoleh ruang untuk menyampaikan pertanyaan, sedangkan pemerintah membuka informasi perencanaan anggaran secara transparan.
Selain kreativitas, penyelenggara perlu memperhitungkan momentum. Pemilihan waktu dan konteks yang tepat dapat memperkuat pesan sekaligus memperbesar manfaat kegiatan bagi masyarakat.
Bima menegaskan, keberhasilan event pemerintah membutuhkan kolaborasi lintas perangkat daerah. Tanggung jawab tidak dapat dibebankan hanya kepada bagian protokol karena setiap unsur memiliki peran dalam perencanaan, pelayanan tamu, dokumentasi, dan komunikasi publik.
Wali Kota Surakarta Respati Ardianto mengatakan profesionalisme serta integritas protokol ikut menentukan citra kepala daerah. Menurutnya, keberhasilan acara harus dinilai berdasarkan manfaat yang dihasilkan, bukan hanya kelancaran pelaksanaannya.
Respati sekaligus memperkenalkan Surakarta 2030 Wellness City melalui konsep Jawa Wellness. Gagasan tersebut diharapkan memperluas daya tarik Solo selain sebagai tujuan wisata budaya, kuliner, dan belanja.
